Sabtu, 15 Maret 2014

Entah

Entah..
Kehidupan seperti apa yang aku jalani saat ini..
Bukan lagi tentang sunyi ataupun gelap..
Tapi tentang arah hati yang tak tau akan kemana..

Entah..
Mungkin diri ini sudah jengah..
Bukan hendak menyerah..
Hanya merasa diri ini sudah payah..

Entah..
Hasrat ini ingin menunjukkan jari tengah..
Sebagai tanda aku sudah parah..
Tetapi hati kecil ini tak ingin mengalah..
Yang membisikkan tangan ini harus mengadah..
Memohon kepada Yang Maha Indah..

Entah..
Harus apa lagi..
Dunia sudah terlalu keji..
Apa aku yang terlalu senang berlari..
Hingga terjatuh di lubang yang aku gali sendiri..

Entah..
Aku hanya jengah..
Lelah..
Payah..
Entahlah...


Jumat, 14 Maret 2014

Jangan Cintai Aku Apa Adanya..

 Terispirasi oleh lagu super hebat.'Tulus- Jangan Cintai Aku Apa Adanya'

"Coba deh dengerin lagu ini" kata Ivan padaku

"Lagu siapa van ?"

"Tulus yang baru, Jangan cintai aku apa adanya, keren deh menurut gue laki-laki emang terkadang perlu sedikit tuntutan dari pendampingya biar ga disitu-situ aja. Kan ada yang bilang keberhasilan laki-laki hebat karena ada perempuan hebat juga di belakangnya, ya ga? asal jaga dikit-dikit rengek aja, hehe"

"Iya juga yaa. Coba gue mau denger"

Dikamar petak di Jatinangor pertama kalinya aku mendengar lagu ini..
Lalu aku langsung mencintai bait lirik ini..
Begini liriknya..

"Jangan cintai aku
apa adanya
jangaaaaan...
tuntutlah sesuatu
biar kita jalan kedepan"

Seketika aku rindu seseorang yang sedang berada di Jakarta..
Kami tak saling mencinta..
Hanya melebur dalam persahabatan..
Hobby kami sama..
Sama-sama suka menempuh jarak jauh dengan kuda besi dan menghitung jumlah orang gila selama perjalanan...

Lalu apa hubugannya dengan lirik ini ?
Aku tersentak ingat tuntutan serta janji manisnya..

Seperti ini kurang lebih tuntutannya..

"Tik, kalo lo kurus se Vero (bodi Luna Maya lah yaa), gue bakalan beliin lo Ferrari"

"Serius lo?" jawabku antusisas

"Iya, coba bisa gak?" jawabnya dengan sedikit canda..

"Benar yaa, awas aja kalo gue berhasil singset kaya Vero, lo harus beliin gue Ferrari" jawabku lantang..

"Iya, deal yaa?" sambutnya..

"Okeh, Dealllll, nabung dari sekarang buat beliin gue Ferrari" tantangku..

"hahahaha, iya" sahutnya dan kita tertawa bersama..


Aku tau, sangat tau dia hanya mencibir dan menganggap kalau itu tak mungkin terjadi..
Aku sakit hati ?? ohh tentu saja tidak..
Kata-kata itu sadar atau tidak telah medayu-dayu di otakku..
Sebuah motivasi baru..
Bukan karena Ferrari model terbaru..
Tapi karena ada sedikit di hati kecilnya kepedulian untukku..
Tak mungkin dia menuntutku dengan kata-kata manis bak pujangga yang akan hanya mengundang gelak tawa saja..

Aku akan berusaha membuktikannya padamu..
Jika nanti hasilnya tak sesuai harapmu, maaf..
Tapi nanti jika suatu saat aku bisa menjadi 'Vero'..
Yang akan ku lakukan pertama kali bukan menagih Ferarri di depan teras rumahku..
Bukan itu..
Yang kulakukan adalah memelukmu erat-erat mungkin sambil menitikkan air mata dan berucap beribu-ribu ungkapan terima kasih..
Terima kasih atas cinta yang berupa tuntutan klasik itu..
Terima kasih karena kau telah tidak mencintaiku apa adanya..
Dan jangan cintai aku apa adanya...

Tapi jika aku berhasil, aku akan tetap menagih Ferarri nan mewah itu..
Jika kenyataannya kamu yang tak menyanggupinya..
Tak mengapa..
Akan aku minta tukar..
Aku akan menukar dengan pundakmu saja..
Tak untuk hari ini tapi sampai menua bersama..
Aku rasa pundakmu lebih menenangkan dan membanggakan daripada Ferarri yang mentereng itu..
Bolehkah ???



Takdir yang mengalir dan goresan Tangan Tuhan yang akan menjawabnya..
Karena aku lebih suka itu..


Jakarta sebelum gelap, 14 Maret 2014